Manusia Bodoh
Oleh Levri Ardiansyah
Sebagai dosen Studi Administrasi yang tidak mengerti Geologi, saya adalah manusia bodoh yang menulis tentang Geologi pada konteks kepaduannya terhadap Studi Administrasi.
Bukankah manusia bodoh yang mau menulis, pasti akan ada tulisan? Bukankah manusia pintar yang tidak mau menulis, pasti tidak akan ada tulisan? Disini saya termenung dan bertanya pada diri sendiri, 'Apakah manusia pertama yang menghasilkan tulisan adalah manusia bodoh yang mau menulis ataukah manusia pintar yang mau menulis? Entahlah, yang jelas karena adanya tulisan, peradaban manusia berkembang kian maju.
Saat saya berusaha dapat menggambarkan figur geometrikal pada figur Batu Levria MAR (0110), saya adalah manusia bodoh yang tidak mengerti Geometri tetapi tetap berusaha belajar hanya agar dapat menggambar.
Bukankah manusia bodoh yang mau menggambar, pasti akan ada gambar? Disini saya kembali tertegun dan bertanya pada diri sendiri, 'Andai administrasi tidak saya gambarkan mental picture-nya, bagaimana saya dapat membayangkan adanya administrasi yang kini tidak ada fakta ilmiahnya? Bagi saya, gambar figur geometrikal pada batu hanyalah langkah awal untuk menggambarkan mental picture administrasi.
Demikian pula saat saya ingin sekolah, saya adalah manusia bodoh yang ingin diajar dan dibimbing.
Bukankah karena kebodohan, sekolah ada? Andai manusia pintar tidak lagi menyelenggarakan sekolah dengan dasar untuk memberantas kebodohan, maka lambat laun sekolah pasti akan menjadi pintu gerbang kebodohan. Andai siswa tidak sadar dirinya adalah manusia bodoh yang ingin diajar, maka sudah pasti kebodohan akan tetap ada pada dirinya hingga jenjang sekolah tertinggi sekalipun.
Manusia bodoh adalah amanah pendidikan.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home