Buku dalam Bentuknya sebagai Batu
Levri Ardiansyah (05112016)
Pada era modern ini, kita membuat buku dalam bentuknya sebagai kertas yang bertumpuk rapih. Seberapa hebatpun ilmu yang terkandung pada buku era modern, cucu kita yang hidup 3000 tahun mendatang tidak akan dapat lagi membacanya, karena sehebat apapun teknologi kearsipan yang kita ciptakan untuk mengawetkan kertas, tetap saja usia alamiah kertas tak kan pernah mencapai 3000 tahun, apalagi 30000 tahun mendatang. Begitu juga dengan arsip dalam bentuk maya di dunia internet. Apakah pengelolaan situs buku keilmuan di dunia maya masih bisa bertahan 30000 tahun kemudian? Saya tidak yakin, karena hingga kinipun terbukti kita dapat mengakses informasi keilmuan di dunia maya hasil karya cipta karuhun kita yang hidup ribuan tahun lalu.
Saya secara kebetulan menemukan batu yang dapat saya baca layaknya saya membaca buku. Memang proses hingga saya dapat membaca stone book ini sungguh amat berat, terlebih karena saya terpaksa harus sendirian membacanya. Menjadi kian berat, manakala saya harus menjelaskannya secara ilmiah bahwa batu yang saya namai Levria Stone (MAR 0110) adalah buku tentang Ilmu Bumi dan Ilmu Administrasi. Sejak pertama kali saya menjejakan kaki di lokasi temuan batu pada tahun 2007, barulah pada 31 Oktober 2016 ini saya bersyukur dapat melalui masa lelah raga jiwa ini dengan selesainya print out buku 'Induction of Science of Administration'. Satu Dua fase berat telah saya lalui dan akan banyak fase berat baru yang pasti menanti dihadapan wajah.
Jika batu ini adalah buatan manusia, maka persepsi saya tentang jaman batu berubah total.
Jaman Batu adalah jaman perpustakaan batu (stone library) dan jaman laboratorium batu (stone lab) bukan hanya jaman pembuatan alat-alat berburu dan memasak yang sederhana. Dengan begini, saya membayangkan bahwa manusia pada jaman batu adalah manusia modern, memiliki ilmu, pengetahuan, teknologi dan peradaban yang jauh lebih hebat dari kita saat ini. Para ilmuwan kala itu dapat mengarsipkan ilmu dalam bentuknya sebagai batu, agar dapat dibaca oleh kita yang hidup ratusan ribu tahun kemudian.
Jika batu ini adalah batu yang alami, maka persepsi saya tentang penciptaan bumi dan langit berubah total.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home